Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyambut baik peresmian Waduk Cilangkap Batu Licin di Jakarta Timur oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai langkah penting dalam upaya pengendalian banjir. Peresmian ini dinilai menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghadirkan solusi struktural yang berkelanjutan di tengah meningkatnya intensitas hujan ekstrem dan kerentanan wilayah Jakarta terhadap banjir.
Menurut Fahira Idris, kehadiran Waduk ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur penampung air, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir terpadu yang sangat dibutuhkan Jakarta. Terlebih, hujan deras yang kembali menyebabkan banjir di sejumlah titik Jakarta dalam beberapa hari terakhir menjadi pengingat bahwa persoalan ini membutuhkan penanganan yang konsisten, terencana, dan lintas sektor.
“Peresmian Waduk Cilangkap Batu Licin adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak berhenti membangun solusi jangka menengah dan panjang. Namun, banjir adalah persoalan sistemik, sehingga keberhasilan waduk ini harus diperkuat dengan kebijakan yang terintegrasi,” ujar Fahira Idris di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (13/1).
Namun, pengalaman banjir yang kembali terjadi di berbagai titik Jakarta mengajarkan satu hal penting bahwa tidak ada solusi tunggal untuk persoalan banjir. Penanggulangan banjir Jakarta harus dipahami sebagai kerja sistemik dari hulu hingga hilir, dari infrastruktur besar hingga solusi berbasis komunitas. Terkait upaya penanggulangan banjir di Jakarta, Senator Jakarta ini menyampaikan empat harapan utama agar upaya penanggulangan banjir di Jakarta semakin efektif dan berkelanjutan.
Pertama, Fahira Idris berharap pembangunan waduk dan infrastruktur pengendali air lainnya terus dilanjutkan dan disinergikan dalam satu sistem terpadu. Waduk baru harus terhubung dengan jaringan sungai, saluran, dan pompa yang ada, sementara waduk-waduk lama perlu direvitalisasi melalui pengerukan sedimen dan peningkatan kapasitas tampung. Dengan demikian, daya tahan sistem terhadap hujan ekstrem dapat meningkat secara nyata.
Kedua, pentingnya percepatan penataan sungai dan sistem drainase kota dengan pendekatan yang adil dan berkelanjutan. Normalisasi dan naturalisasi sungai harus berjalan seiring dengan perlindungan warga terdampak, peningkatan kapasitas pompa di titik rawan genangan, serta pemeliharaan rutin infrastruktur air.
“Kita membutuhkan pengelolaan air yang tidak hanya reaktif saat banjir terjadi, tetapi preventif sejak tahap perencanaan,” ungkapnya.
Ketiga, penguatan pendekatan ekologis melalui perluasan ruang terbuka hijau-biru, sumur resapan, drainase vertikal, dan solusi berbasis alam (nature-based solutions). Menurut Fahira Idris, ketahanan Jakarta terhadap banjir tidak bisa hanya bertumpu pada beton dan infrastruktur keras, tetapi juga pada pemulihan daya dukung lingkungan. Pembangunan kawasan harus semakin berbasis resapan air, agar hujan tidak seluruhnya berubah menjadi limpasan permukaan yang memicu genangan.
Keempat, pentingnya kolaborasi regional Jabodetabek dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dari hulu hingga hilir. Banjir Jakarta tidak hanya dipengaruhi curah hujan lokal, tetapi juga kiriman air dari wilayah penyangga serta ancaman rob di pesisir. Karena itu, koordinasi lintas daerah dalam pengelolaan sungai, tata ruang, dan pengendalian sumber banjir harus diperkuat dengan peta jalan bersama yang berbasis data dan risiko.
Fahira Idris juga mengingatkan bahwa penanggulangan banjir tidak boleh dilepaskan dari kepentingan warga. Setiap kebijakan dan proyek harus berorientasi pada keselamatan, kesehatan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat, terutama kelompok rentan yang paling terdampak saat banjir terjadi.
“Hadirnya waduk baru di Jakarta adalah langkah penting dan patut diapresiasi. Harapannya, ini menjadi bagian dari strategi besar yang menggabungkan infrastruktur, tata ruang, ekologi, dan kolaborasi lintas wilayah. Melalui kebijakan yang konsisten dan terintegrasi, Jakarta dapat bergerak dari sekadar kota yang selalu ‘siaga banjir’ menjadi kota yang semakin tangguh menghadapi risiko,” pungkas Fahira Idris.
Sebagai informasi, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meresmikan Waduk Cilangkap Batu Licin di Jakarta Timur pada Senin (12/1) pagi. Infrastruktur ini dibangun sebagai solusi strategis pengendalian banjir sekaligus ruang publik hijau yang berkelanjutan.#





