Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyambut dimulainya musim haji 1447 H/2026 M dengan menyampaikan doa mendalam agar seluruh jemaah Indonesia diberi kesehatan, kemudahan, keselamatan, dan kembali ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur. Pada saat yang sama, Fahira Idris juga menyampaikan harapan agar penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
“Selamat menunaikan ibadah haji kepada seluruh jemaah Indonesia. Ini adalah perjalanan ruhani yang agung, perjalanan penghambaan yang tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga keikhlasan batin. Kita doakan seluruh jemaah diberi kelancaran, kesehatan, perlindungan, dan kembali membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” ujar Fahira Idris di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/4).
Menurut Fahira Idris, musim haji 2026 memiliki sejumlah konteks baru yang penting, mulai dari tahun pertama operasional Kementerian Haji dan Umrah, penguatan layanan, implementasi yang lebih matang untuk skema murur dan tanazul, hingga tantangan besarnya proporsi jemaah risiko tinggi yang harus menjadi perhatian bersama. Senator Jakarta ini pun menyampaikan enam harapannya.
Pertama, haji 2026 harus menjadi tonggak penguatan kualitas layanan, bukan sekadar transisi kelembagaan. Dengan hadirnya Kementerian Haji dan Umrah, Fahira Idris berharap ada lompatan kualitas tata kelola, terutama koordinasi layanan, respons masalah di lapangan, dan integrasi antarpetugas. Menurutnya, momentum pembaruan kelembagaan harus terasa dampaknya di level paling nyata yakni kenyamanan dan kekhusyukan jemaah.
Kedua, haji ramah lansia dan ramah perempuan harus hadir sebagai praktik nyata. Mengingat tingginya proporsi jemaah risiko tinggi dan lansia, layanan afirmatif harus benar-benar terasa, mulai dari pendampingan, aksesibilitas, fasilitas sanitasi, ritme pelayanan yang lebih adaptif, hingga keberadaan petugas yang proaktif dan empatik.
Ketiga, inovasi murur dan tanazul harus menjadi instrumen perlindungan jemaah yang efektif. Fahira Idris mengapresiasi berbagai inovasi ini, tetapi berharap implementasinya disertai sosialisasi yang matang, kesiapan logistik, dan mitigasi risiko berbasis skenario lapangan. Menurutnya, inovasi dalam haji harus selalu bertumpu pada keselamatan, kemudahan, dan kesahihan manasik.
Keempat, musim haji tahun ini harus menjadi momentum penguatan budaya pelayanan yang lebih humanis. Fahira Idris berharap petugas haji benar-benar hadir tidak hanya sebagai administrator layanan, tetapi juga pendamping spiritual dan problem solver bagi jemaah. “Di tengah kepadatan, cuaca ekstrem, dan kelelahan, sering kali yang paling dibutuhkan jemaah adalah ketenangan yang lahir dari pelayanan yang sigap dan penuh empati,” ujarnya.
Kelima, kesehatan jemaah harus ditempatkan sebagai prioritas utama dari awal hingga fase Armuzna. Belajar dari evaluasi tahun-tahun sebelumnya, Fahira Idris berharap pendekatan preventif kesehatan diperkuat, termasuk edukasi disiplin ibadah sesuai kapasitas fisik, kepatuhan pada panduan petugas, dan pengawasan lebih ketat di fase Armuzna.
Keenam, teknologi dan digitalisasi layanan harus semakin memudahkan jemaah, bukan menambah kompleksitas. Fahira Idris menilai distribusi Kartu Nusuk lebih dini, penguatan layanan informasi real-time, hingga optimalisasi kanal pengaduan digital perlu dimaksimalkan agar teknologi benar-benar menjadi instrumen perlindungan jemaah, terutama untuk navigasi layanan, kedaruratan, dan komunikasi keluarga.
“Setiap musim haji selalu membawa pelajaran baru. Harapan kita, tahun ini bukan hanya lebih baik dari tahun lalu, tetapi juga lebih bermakna. Semoga seluruh jemaah Indonesia dimudahkan menjadi haji yang mabrur, dan seluruh petugas diberi kekuatan menjalankan amanah besar ini,” pungkas Fahira Idris.
Sebagai informasi pada Rabu (22/4) adalah awal keberangkatan gelombang I dari Indonesia ke Madinah. #





