Sinovac Dapat "Restu" dari MUI dan BPOM, Fahira Idris: Vaksinasi Idealnya Juga Diiringi Peningkatan 3T

Sinovac Dapat “Restu” dari MUI dan BPOM, Fahira Idris: Vaksinasi Idealnya Juga Diiringi Peningkatan 3T

Jakarta, 12 Januari 2021–Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya merilis izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan asal China, Sinovac. Sementara dari sisi kehalalan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga resmi menetapkan fatwa halal untuk vaksin Covid-19 atau boleh digunakan oleh umat Islam. Artinya, tahapan vaksinasi sudah bisa dimulai di Indonesia tentunya dengan memperhatikan ketersediaan dan distribusi vaksin. Namun, walau nanti tahapan vaksinasi sudah berlangsung, peningkatan kapasitas 3T harus terus dilakukan oleh Pemerintah.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, jika proses vaksinasi diiringi dengan peningkatan kapasitas 3T (testing atau pemeriksaan; tracing atau penelusuran kontak; dan treatment atau tindak lanjut pengobatan atau perawatan) yang sepenuhnya menjadi tugas Pemerintah maka pengendalian pandemi bisa lebih cepat. Apalagi jika masyarakat semakin disiplin dan konsisten jalankan 3M (memakai masker yang benar; mencuci tangan pakai sabun di air mengalir; menjaga jarak dan hindari kerumunan) maka Indonesia akan cepat pulih dari pandemi ini.

“Setelah dapat restu dari BPOM dan MUI artinya kita sudah bisa memulai tahapan vaksinasi. Namun, Pemerintah diharapkan tidak hanya berfokus pada vaksinasi tetapi juga berusaha keras untuk meningkatkan kapasitas 3T secara nasional sesuai standar WHO. Di satu sisi masyarakat juga harus semakin disiplin 3M. Ini semua (vaksinasi, 3T, 3M) harus dilakukan berbarengan kalau bangsa ini ingin cepat pulih. Kecepatan penyebaran virus hanya bisa kita ‘kejar’ dengan tiga tindakan atau strategi ini,” ujar Fahira Idris, di Jakarta (12/1).

Menurut Fahira, idealnya setelah 10 bulan menjalani pandemi ini, kapasitas tes Covid-19 (swab atau PCR) bisa melampaui standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Terus terjadinya peningkatan kasus positif selama ini salah satunya diakibatkan jumlah tes yang masih belum sesuai standar. Padahal tes massal adalah salah satu strategi utama mengendalikan virus ini. Semakin banyak warga yang dites maka upaya penanganan akan lebih cepat dapat dilakukan sehingga penyebaran virus tidak terjadi.

“Saya berharap ke depan terutama saat tahapan vaksinasi berlangsung, Pemerintah juga melakukan akselerasi tes Covid-19. Jika hanya mengharapkan vaksin, pandemi ini akan butuh waktu lama untuk dikendalikan. Namun, jika diiringi oleh peningkatan kapasitas tes, penelusuran kontak dan perawatan ditambah kedisiplinan 3M masyarakat semakin tinggi, maka kita bisa segera berangsungsur pulih dari pandemi ini,” pungkas Fahira. #

Leave a Reply

WhatsApp chat